Pemabuk Merusak Minggu Adven Suasana Natal di Papua

SAIRERINEWS.COM – Entah tradisi apa yang kerap terjadi secara berulang-ulang di Tanah Papua. Dimana setiap berkumpul satu sama lain, selalu diakhiri dengan minum minuman keras. Juga dengan merayakan acara-acara yang pada diakhirinya dengan acara goyang dan miras hingga pulang pagi.

Hal ini semakin hari semakin menjadi hal biasa yang dapat kita jumpai di kabupaten/kota di Papua.

  • Mabuk-mabukan hingga berujung kecelakaan maut,
  • Mabuk dan pencuri,
  • Mabuk dan kekerasan,
  • Mabuk dan onar,
  • Mabuk dan kekerasan dalam rumah tangga,
  • Mabuk dan sex bebas beresiko

Hal ini menimpah anak-anak muda (usia produktif) di Papua. Banyak anak-anak muda Papua yang terpengaruh hal ini, sehingga kondisi tubuh mereka menjadi rusak yang sebenarnya bisa menjadi Polisi, TNI, IPDN, Pilot dan lain-lain mejadi tidak lulus.

Pemuda Papua Gampang jadi Polisi / Akpol, TNI, IPDN, Dokter, Pilot dan sebagainya tapi karena dari masa Sekolah sudah Mabuk, Sex Bebas dan Narkoba akhirnya peluang tersebut menjadi Batal dan peluang tersebut ditutup oleh non Papua.

Mabuk-mabukan ini setiap menjelang Desember, tingkat konsumsi miras meningkat, sehingga berdampak kepada ketidaknyamanan masyarakat dan mengganggu perayaan natal.

Ketua Forum Pemuda Kristen di Tanah Papua, Seppi Wanimbo, meminta kepada pemerintah agar menutup setiap toko penjual minuman keras (Miras) selama bulan Desember.

“Kepada pemerintah Provinsi dan kabupaten kota se-Papua, agar segera mengimbau kepada setiap toko penjual minuman keras tak lagi jual dalam bulan desember 2023 ini apalagi saat Natal,” kata Seppi disalin dari Tribun Papua di Jayapura, Kamis (14/12/2023).

Dia juga mengatakan bertepatan dengan akhir tahun, miras menjadi pilihan masyarakat karena merasa berada di penghujung tahun dan hari libur.

“Sehingga mereka sering membeli minuman keras dengan jumlah banyak yang bisa berdampak kepada diri mereka dan keluarga, juga mengganggu perayaan natal maka ini harus ada pencegahan oleh pemerintah,” katanya.

Menurutnya, setiap Desember, korban akibat miras terus meningkat. Hal ini bukan malah dihentikan oleh pemerintah tetapi selalu dibiarkan.

“Kapan kita memutuskan rantai kematian seperti ini harusnya pemerintah tegas untuk menutup setiap toko merah selama Desember,” ujarnya.

Seppi berujar, pemerintah bertanggung jawab terkait peredaran miras secara bebas di Papua, karena telah memberikan izin edar.

Selain itu, ia juga meminta kepada seluruh pemilik dan penjual minuman keras yang ada di Papua untuk menghargai Natal dengan tidak menjual miras.

“Penjual minuman keras harus menghargai hari besar warga kristen di seluruh dunia terlebih khusus di tanah Papua, sehingga bagi yang jual beli miras segera tutup,” ujarnya.

Ia juga meminta agar ada kesadaran masyarakat untuk merayakan Natal dengan suasana damai, berusaha untuk merefleksi kehidupannya selama setahun dan mengisinya dengan pengucapan syukur dengan menghindari Miras.

“Lalu kita merayakan hari Natal ini tanpa miras di seluruh Tanah Papua dan menghargai Kelahiran Putra Natal, dengan hati dan pikiran yang bersih bersama keluargga,” pungkasnya. (*)

error: Content is protected !!