Prihatin ! Habis Yospan, Remaja di Alun-Alun Serui “Goyang Patola”

Goyang Patola oleh Sejumlah Remaja di Alun-alun Serui yang sempat Viral 22/8/2022

SAIRERINEWS.COM – Berulang kali masyarakat dari berbagai lapisan protes perilaku modern yang tidak terpuji ini. Goyang erotis yang menunjukan kemolekan “Pantat Wanita/Perempuan” disebut dengan goyang patola oleh masyarakat Papua.

Dosen Seni Tari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua, Muhammad Ilham M. Murda menyoroti fenomena goyang patola yang kerap terjadi di Papua.

Ilham mengatakan, sudah mulai ada pergeseran budaya asli Papua yang terpengaruh dengan budaya barat. Salah satunya terlihat dari gerakan yang disajikan dalam goyang patola, kutip dari media terbesar Papua JUBI.

Menurutnya, gerakan goyang patola adalah bentuk kesenian populer yang ada di negara lain dan sudah mulai digemari oleh masyarakat di Papua dari berbagai golongan. “Kalau melihat secara estetika gerak tarian Patola tersebut, banyak mengandung gerak sensual, erotis atau porno aksi yang bisa merusak moral generasi di Papua dan terkesan tidak mendidik,” ucap Ilham.

Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK) Papua, Mark Imbiri menyayangkan perilaku kelompok remaja yang terjadi di alun-alun Serui (22/3/2022) yang hebohkan sosial media Facebook dan TikTok itu.

“Ade-ade Remaja Perempuan yang Goyang Patola usai menonton lomba Yospan Jalan (Display) itu mengingatkan saya dengan kejadian di Festival Danau Sentani beberapa waktu lalu. Ade-ade Perempuan yang goyang Patola, kalian bangga menunjukan bentuk tubuh untuk orang banyak melihat ? atau kalian kurang didikan dari orang tua ? lebih baik kalian mengisi kemerdekaan RI dengan hal yang baik” bebernya.

Imbiri menjelaskan dan menghimbau kepada remaja Papua Papua, khususnya di Serui untuk melihat beberapa hal dari pergaulan saat ini ;

  1. Goyang Patota bagi perempuan adalah suatu rasa ‘gaul’ untuk menunjukan kemolekan tubuh, namun pandangan laki-laki adalah Porno Aksi.
  2. Perempuan yang Goyang Patola biasanya foto dan videonya di ambil oleh laki-laki dan disebarkan di Twitter, sehingga perempuan tersebut akan mengalami gangguan inbox, telpon dan sebagainya dari orang yang berkeinginan negatif
  3. Jejak digital susah dihapus, dan akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial atau perkawinan adik-adik remaja di masa mendatang.

Relawan TIK menambahkan, tanggal 20 Agustus kemarin Relawan TIK baru menyampaikan ke publik tentang masalah transaksi foto dan video telanjang yang cukup tinggi terjadi di Serui.

Pergaulan dan sex bebas di Serui juga cukup tinggi dengan jumlah kasus HIV/AIDS 1.544. Usia muda paling rentan dalam data dinas kesehatan provinsi Papua untuk kabupaten kepulauan Yapen.

Kejadian goyang Patola yang cukup viral di alun-alun Serui kemarin ini juga di soroti oleh seniman Yapen Yunus Wihyawari.

Ini kitong punya budaya ka ? tanya Yunus Wihyawari musisi Suandei Grup.

“Anak-anak muda ini setelah ikut Yospan, kemudian masuk ke dalam alun” Trikora menggunakan speaker aktif yang digunakan untuk memutar lagu Yospan waktu lomba, di ganti dengan lagu yang lain dan mulailah dorang tunjukan kebolehan mereka dalam memainkan goyangan pantat kecil” kesal Seniman dalam postingan sosial medianya.

Kegiatan Panitia lomba,tapi setidaknya didalam ada dewan kesenian yang punya kewenangan atau tugas untuk menjaga,melihat dan mengatur tentang segala bentuk kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan seni dan budaya di daerah ini mestinya sudah harus serius memperhatikan hal ini, tambah Yunus.

Yunus Wihyawari juga mengoreksi keterlibatan musisi musik dalam kegiatan Yospan belakangan tahun terakhir ini karena telah diganti dengan musik jadi (lagu rekaman).

Kalau Yospan display yang pentas juga lagu pengiring nya pakai Mp3, menurut Dewan kesenian itu hal biasa ka ? dan baik untuk masa depan seni Papua, kenapa tidak syaratkan gunakan kelompok musisi pengiring Yospan ?

Secara perlahan lahan akan mengikis habis bentuk dari tari Yospan yang sebenarnya.
Tari Yospan yang sebenarnya dan akan lebih asik,lebih seru,lebih indah manakala ditampilkan adalah ada kelompok tari dan musisi yang sudah berpadu.

Saya sedih menyaksikan semua ini, baik di pentas panggung dan Yospan berjalan (display) beberapa waktu belakangan ini dilaksanakan tanpa menggunakan kelompok musisi.
Kalau begitu demikian adanya silahkan ubah menjadi Yospan Moderen. (*)

Pewarta : Jurnalis Warga
Editor : Iqi Aninam

 

error: Content is protected !!