Cerita Rakyat Yapen “Batu Keramat, Irimiami dan Isorai”

Di daerah kampung Wawuti Repfi (Revui) terdapat raja yang hidupnya di dalam goa. Saat panas pagi hari atau siang, raja ini keluar untuk berjemur.

Raja ini berjemur panas di sebuah gunung bernama Kamboi Rama. Gunung tersebut merupakan tempat bagi penduduk Wawuti untuk berkumpul atau mengadakan pesta. Gunung Kamboi Rama inilah tempat tinggal Raja Tanah bernama Iriwonawai.

MENJELANG PILKADA 27 NOVEMBER 2024

Raja Tanah Iriwonawai sangat kaya. Ia memiliki sebuah tifa keramat yang diberi nama Sokirei/Soworoi. Jika Raja Tanah menginginkan penduduk berkumpul, tifa tersebut akan dibunyikan.

Tifa Sokirei dibunyikan, penduduk akan berbondong-bondong menuju Gunung Kamboi Rama. Berkumpul merupakan satu hal yang tidak pernah dilewatkan oleh satu orang pun penduduk. Alasannya, mereka ingin mendapat kesempatan melihat tifa Sokirei. Namun sayangnya, tifa Sokirei hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang memiliki kekuatan gaib.

Selain memiliki tifa Sokirei, Raja Tanah Iriwonawai juga memiliki daerah yang banyak ditumbuhi tanaman sagu. Daerah tersebut bernama Aroempi.

Sagu merupakan makanan pokok dari penduduk Wawuti Revui. Hampir setiap hari, penduduk mengambil sagu di daerah Aroempi. Lama kelamaan, sagu di daerah tersebut berkurang.

Hal tersebut membuat Raja Tanah Iriwonawai marah. Hingga akhirnya, Raja Tanah Iriwonawai memindahkan tanaman sagunya ke daerah lain. Hal tersebut, ternyata tidak membuat Raja Tanah Iriwonawai, berkurang amarahnya sehingga penduduk senantiasa ketakutan. Untuk menghindari kemarahan Iriwonawai penduduk Wawuti Revui pindah ke daerah pantai. Daerah yang baru tersebut oleh penduduk Wawuti Revui diberi nama Randuayaivi.

Sementara itu, di Wawuti Revui hanya tinggal Raja Tanah Iriwonawai dan sepasang suami istri bernama Irimiami dan Isoray. Mereka tetap tinggal di desa tersebut dan tidak ingin meninggalkan Wawuti Revui seperti penduduk-penduduk yang lain.

Pada suatu hari, si istri yaitu Isoray duduk di atas batu untuk berjemur. Setelah beberapa lama ia duduk, batu yang didudukinya mengeluarkan gumpalan awan. Mula-mula Isoray merasa hangat. Lama kelamaan, ia merasa kepanasan sehingga ia tidak tahan duduk di batu itu.

Isoray pulang dan menceritakan hal itu kepada suaminya Irimiami. Irimiami semula tidak percaya. Namun, setelah duduk di atas batu tersebut, ia merasa kan hal yang sama dengan yang dirasakan istrinya.

Tiba-tiba, Irimiami mendapat ide. Ia meletakkan daging babi di atas batu tadi. Tidak lama kemudian, daging babi itu diangkat dan mereka makan. Ternyata daging rusa tersebut terasa lebih enak. Sejak saat itu, mereka senantiasa memanggang makanannya di atas batu tersebut.

Pada suatu hari, secara tidak sengaja, Irimiami dan Isorai menggosok buluh bambu di atas batu yang mereka anggap ajaib itu. Tidak lama kemudian, buluh bambu tersebut putus dan gosokan buluh bambu mengeluarkan percikan-percikan terang. Hal tersebut membuat suami istri tersebut semakin heran.

Keesokan harinya, mereka mencoba melakukan hal yang sama namun dengan menggunakan rumput dan daun kering. Rumput dan daun kering yang mereka kumpulkan, mereka letakkan di atas batu. Tak lama kemudian, rumput dan daun itu mengeluar kan gumpalan awan seperti yang mereka lihat sebelumnya.

Pada hari yang lain, suami istri; Irimiami dan Isorai meletakkan ranting bambu, rumput, dan daun-daun kering sekaligus. Mereka ingin melihat apa yang terjadi. Ternyata, dari tumpukan bambu, rumput dan daun-daun kering keluar awan merah yang sangat panas.

Suami istri tersebut menjadi sangat ketakutan, mereka lalu meminta bantuan Raja Tanah Iriwonawai untuk memadamkan awan merah itu. Akhirnya, dengan bantuan Raja Tanah Iriwonawai, awan merah itupun dapat dipadamkan. Awan merah itulah yang kemudian disebut sebagai api.

Irimiami dan Isorai sangat takjub akan kemampuan batu yang tidak sengaja mereka temukan tersebut. Mereka menganggap batu tersebut sakti dan keramat. Mereka pun akhirnya memuja batu tersebut.

Hari itu, Irimiami dan Isorai mengadakan pemujaan terhadap batu keramat. Mereka me­ngumpulkan rumput, daun, dan kayu dalam jumlah yang sangat banyak dan mereka letakkan di atas batu keramat itu.

Seperti kejadian – kejadian sebelumnya dari tumpukan rumput, daun, dan kayu, keluar asap tebal yang mengepul. Begitu banyaknya rumput, daun dan kayu yang diletakan di atas batu, membuat gumpalan awan yang keluar mengepul selama beberapa hari. Pada pemujaan tersebut, Raja Tanah Iriwonawai juga ikut membunyikan gendang keramatnya.

Suara gendang keramat yang dibunyikan oleh Raja Tanah Iriwonawai ternyata terdengar hingga daerah Randuayaivi. Penduduk Randuayaivi juga melihat kepulan awan dari Gunung Kamboi yang berasal dari batu keramat.

Penduduk Randuayaivi pun berbondong-bondong menuju Gunung Kamboi. Mereka tertarik dengan suara gendang. Mereka juga ingin melihat asal kumpulan awan yang terlihat sangat tebal tersebut.

Sesampai di Gunung Kamboi, penduduk Randu ayaivi disambut dengan baik oleh Irimiami dan Isoray. Pasangan suami istri tersebut kemudian menceritakan asal muasal dari batu keramat yang mereka temukan. Penduduk Randuayaivi dengan takjub mendengar cerita dari Irimiami dan Isoray. Apalagi setelah mereka mendapat suguhan makanan yang dimasak di atas batu keramat. Selama ini, memang penduduk Randuayaivi belum pernah makan makanan yang dimasak.

Suami istri Irimiami dan Isorai sangat gembira akan kedatangan penduduk Randuayaivi. Mereka berjumpa kembali dengan orang-orang yang dahulu mereka kenal. Kegembiraan suami -istri tersebut membuat mereka sepakat untuk membuat pesta adat bersama-sama penduduk Randuayaivi.

Keesokan harinya, pesta adat pun dimulai. Penduduk Randuayaivi kembali datang berbondong bondong ke Gunung Kamboi. Kali ini mereka datang dengan membawa berbagai bahan makanan seperti sagu, daging rusa, daging babi, kasbi, keladi, petatas dan sebagainya. Mereka berkumpul mengelilingi batu keramat. Bahan-bahan makanan yang mereka bawa diletakkan di atas batu keramat.

Tidak lama kemudian, keadaan sekitar Gunung Kamboi Rama menjadi sangat terang karena sinar api yang keluar dari batu keramat.

Selama tiga hari tiga malam mereka melangsung kan pesta adat, mereka semua gembira. Irimiami dan Isoray kembali menceritakan peristiwa-peristiwa yang mereka alami selama menemukan batu keramat. Di samping mendengarkan cerita Irimiami dan Isoray, mereka juga menari-nari mengelilingi batu keramat.

Hingga saat ini, rakyat percaya jika Irimiami dan Isorai adalah orang yang pertama kali menemukan api. Mereka mengeramatkan batu keramat yang ditemukan Irimiami dan Isoray. Setahun sekali mereka melakukan upacara adat untuk memuja batu keramat tersebut.(*)

Sumber Cerita : Bapak Paulus Kaifei & Keliopas Manitori

error: Konten dilindungi !!!